↓ Archives ↓

Category → Migration

Menjadi lebih Baik dengan Open Source

Hanya Tulisan Biasa

Dalam tulisan ini saya tidak akan menulis dan mengulangi banyak wacana yang telah ada di sekitar Open Source. Definisi, makna teknis, implementasi, analisis, feasibility, prospek, spesifikasi hingga konsep hukum dan hitungan ekonomis adalah bagian-bagian yang ingin dihindari karena kita begitu mudah mendapatkan semua keterangan itu hanya dengan mengetikkan keyword Open Source dengan mesin pencari di internet.

Seperti umumnya ‘makanan harian’ saya di Fakultas Ilmu Budaya, pembahasan tentang aspek moral, perilaku, sociocyber, ergonomi, dan netetiquette, adalah sejumput bagian yang ingin saya bagi dengan para peserta Pelatihan Singkat Degex: Aplikasi Berbasis Open Source bagi Pustakawan hari ini.

“Haruskah” Open Source?

Jawabannya, tidak! Jawaban ini pendek, namun membawa konsekuensi panjang yang harus dieksplanasikan.

Kembali pada kebebasan memilih, jika dibandingkan dengan para pengguna Open Source—yang bertulang punggung Linux—yang umumnya fanatik dan militan, saya sedikit berbeda dengan mereka. Saya merasa perlu menegaskan bahwa Open Source bukan sebuah keharusan. Open Source memang bisa menjadi sebuah keharusan bagi satu dua lembaga dengan alasan-alasan teknis, ekonomis, dan politis tertentu.

Bagi saya, pemilihan Open Source, seharusnya memang berangkat dari sebuah kesadaran individu-individu (dimulai dari bawah—bottom up) ketimbang sebuah kebijakan politis (dari atas—top down). Meski konon, keberhasilan yang diceritakan melalui success story perusahaan dan lembaga yang berhasil melakukan migrasi, seperti PT Telkom dan Universitas Paramadina, menunjukkan keberhasilan melalui pola ‘agak keras’–kalau tidak mau disebut ‘tangan besi’. Asumsi lain, berlogika secara antropologi budaya, keberhasilan yang dibangun melalui gerakan di bawah, cenderung akan mengakar lebih kuat walaupun konsekuensinya hasil yang ingin dicapai menjadi memakan waktu dan resistensi yang lebih lama.

Apa yang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM misalnya, perjuangan tim Fakultas Ilmu Budaya Goes Open Source (BuGOS) adalah sebuah bukti nyata betapa alotnya pengembangan Open Source yang tidak didukung penuh manajemen FIB. Sejak 2005—meski infrastuktur yang dimigrasikan merupakan jumlah terbesar di UGM—pengguna Linux di salah satu tempat tertua di UGM ini masih berupa angka-angka yang sangat miris: baru tiga dosen (dari 250) bermigrasi ke Linux, satu orang dengan dual system, dan hanya enam orang dari 91 karyawan yang bermigrasi total.

Meski demikian, di atmosfir di lembaga humaniora ini, Open Source bukanlah barang asing lagi di telinga mereka. Masyarakatnya bisa menikmati Linux sebagai konten di komputer publik, perpustakaan, laboratorium, dan komputer presentasi di kelas. Apalagi di kalangan mahasiswa D3, Open Source sudah populer menjadi bagian dari mata kuliah dan kurikulum yang mereka pakai.

Kembali ke pertanyaan di atas, apakah Open Source sebuah keharusan, maka saya jawaban saya adalah “tidak”. Meski demikian keteranganyang harus saya lanjutkan adalah Open source hadir sebagai alternatif pilihan yang bisa digunakan, berhak mendapat kesempatan yang sama seperti sistem teknologi informasi yang lain, mendapatkan fasilitas yang sama, dan patut dicoba!

Mari Ganti Mindset! Luluhkan Mental Block!

Barangkali ini yang saya terjadi sebelum Tim UGOS mampir ke FIB dulu. Bertahun-tahun saya bekerja dengan Windows: mengetik, menggambar, desktop publishing, memanipulasi foto, alarm tidur, bahkan menyetel pengusir nyamuk pun saya kerjakan dengan OS-nya Bill Gates ini.

Saya yang dibesarkan di dunia DOS dan Windows, saat itu masih membayangkan jika Linux itu adalah benda yang seperti saya lihat di film-film: layar monokrom hijau penuh teks, baris-baris perintah, dihentak dengan tombol enter keras-keras, dan blass nggak ada tampilan bagusnya!

Dan dari semua pekerjaan itu, saya terlambat menyadari jika yang saya kerjakan itu adalah sebuah kegiatan pintar dan mahir sisi baiknya, tapi tidak paham jika itu adalah sebuah ‘kejahatan’: membajak! Menggunakan produk milik suatu perusahaan tanpa membayar lisensinya! Biasa aja kalee, mungkin bahasa anak-anak saya sekarang.

Akibatnya, Tim UGOS datang belakangan lebih banyak cengengesan pada saya yang “lugu” jika ditanya persoalan perilaku ‘soal enaknya membajak’ lisensi itu. Alasan saya sederhana: malas, Linux itu membuat saya harus belajar lagi. Bikin susah. Saya memang menyadari sekali dua kali sebelumnya, namun hadirnya Linux kali ini dengan filosofinya yang hebat: “bahwa pada hakekatnya pengetahuan itu milik dan hak semua orang, maka kebebasan berkarya: mengungkapkan apa yang diinginkan dengan menggunakan pengetahuan dan produk yang tepat tanpa adanya intervensi harus menggunakan produk tertentu”. Itu mendadak mengubah mental blok saya tentang sulitnya Linux. Keinginan untuk tidak melanggar hak cipta dan menghargai hak intelektual orang sekarang menjadi dasar pijakan bahwa kita harus berani mengubah blok mental itu menjadi: Linux bisa dipelajari, bisa dipakai, dapat memenuhi kebutuhan berkomputer, dan itu bermakna sebuah pertaubatan: saya tidak lagi membajak!

Luangkan Waktu: Mencoba

Mau tidak mau, di saat migrasi, adakalanya, mirip orang yang sudah sakaw karena narkoba, saya pun masih harus bolak-balik menggunakan Windows. Meminta dosis itu—meminjam perumpamaan para pengguna Linux di forum-forum :) . Perbedaannya, sekarang ada tambahan keinginan untuk tidak lagi membajak, dan bonusnya, saya ternyata menemukan keasyikan sendiri menemukan dunia Linux yang lebih indah dari yang saya duga.

Pertemuan pertama saya dengan distro Feisty Fawn dan Zencafe, misalnya, sedikit banyak mengejutkan: Lho, Linux ternyata grafis, to?

Belum seberapa, akhirnya saya mulai “nakal”. Saya mulai mencoba-coba gonta-ganti pasangan”. Apalagi dengan distro-distro berikutnya dari kelompok Linux Mint: Celena, Daryna, Elyssa, Felicia, Gloria, Helena, Isadora, benar-benar membuat saya terpesona. Mereka benar-benar cantik!

Itu belum seberapa. Begitu saya dikenalkan dengan Compiz, tambahan kosmetik pesolek Linux, saya terkapar tak berdaya. Jatuh cinta! Bahkan saya tidak malu menyatakannya dalam YM status saya yang pasti juga dibaca oleh anak dan istri saya. “I love you, Helena!” Mereka mungkin hanya geleng-geleng: sudah tua dan beranak, masih juga jatuh cinta. Payah!

Itulah, semua itu dimulai dari awal yang sederhana, persis seperti pacaran, meluangkan waktu dan mencoba.

Bangga Menjadi sebuah Komunitas Berbeda

Begitu baik dan lengkapnya Linux dari Open Source membuat saya makin menyadari bahwa ini adalah sebuah pilihan yang benar. Apalagi ternyata karena pengembangan Linux yang ekslusif—dibesarkan melalui jalur internet dan dikembangkan oleh banyak komunitas—membuat saya menjadi bangga sebagai bagian dari komunitas yang berbeda. Saya kira wajar sekali perasaan ini, sebagaimana umumnya eforia dan militansi yang terjadi pada kelompok minoritas. Minoritas? Ya, sebutlah demikian. Sumber di Linux Mint menyebutkan bahwa distro terbesar itu adalah Windows, lalu Mac, dan barulah ketiga Ubuntu yang dilanjutkan dengan Linux Mint.

Sebetulnya, kebanggaan ini juga bersamaan datangnya dengan semangat dari filsafi Open Source yang ingin membangun jiwa yang lebih merdeka dan eksploratif. Jiwa semacam seperti ini cenderung menjadi semakin tidak populer dan meningkat jumlahnya di kalangan yang terbiasa “sok ingin cepat”, tidak meresapi proses, dan lebih menghargai hasil-hasil instan.

Kondisi seperti itu, yang saya bayangkan, menghasilkan orang-orang yang salah kaprah seperti saya dulu: bahwa bekerja dengan komputer, identik bekerja dengan Windows. Sama halnya dengan itu juga, seolah bekerja dengan komputer sama dengan menggunakan program atau aplikasi saja.

Kesimpulan-kesimpulan keliru seperti itu akan berimplikasi buruk: melemahkan keingintahuan, merendahkan kerja-kerja pengembangan, dan bisa jadi mengakibatkan semakin suburnya pembajakan.

Hal-hal di atas tadi, bangga, berjiwa merdeka, eksploratif, berdampak terus pada konsistensi menggunakan dan mengembangan Open Source. Meski badai dan hujan—istilah lebay-nya—pokoknya Open Source sampe

Kebanggaan ini pula yang membuat saya bergerak konsisten bersama BuGOS dan tim “sisa-sisa laskar Pajang” UGOS untuk terus beraktivitas di bawah bendera Open Source di UGM, meski dukungan dari lembaga induknya seperti PPTIK dan Rektorat UGM tidak lagi sebesar dua-tiga tahun lalu. Mungkin sudah tidak ngetrend lagi, kata seorang teman saya. Jadi, pantaslah jika kiranya jika saya mengibarkan bendera hitam dengan tulisan: “When The Other Leave, We Remain!”

Ada berbagai alasan diungkapkan melalui berbagai media formal atau informal berkaitan dengan pergeseran kebijakan ini di UGM, seperti keharusan memperhatikan sentimen pasar, keinginan untuk “live in harmony” di antara berbagai OS, atau sebutlah kegagalan untuk menyatakan Open Source sebagai “agama yang benar” di UGM—dan berbagai alasan yang bisa diperdebatkan, namun itu semua tidak menyurutkan semangat—malah sedikit membalik menimbulkan rasa keki dan sentimen—pada kami untuk terus bergerak dengan kebanggaan sebagai bagian dari komunitas kecil dan kuat. Komunitas Open Source.

Bicara dan Bertanyalah!

Kecil sekali kemungkinan untuk bisa berkembang pesat di dunia Open Source ini tanpa pendampingan komunitas. Inilah alasan kuat mengapa komunitas UGM lebih banyak berkembang pada Distro Ubuntu. Komunitasnya besar, kuat, dan dukungan teknisnya begitu banyak.

Ini bermakna pula bagi para penggunanya, bahwa mereka harus aktif bertanya, curhat dengan forum, dan terus berani bereskplorasi dengan Linux mereka. Kadang-kadang di kelas, saya selalu menyarankan para mahasiswa untuk selalu mencoba-coba “para gadis cantik” Linux itu. Saya berani menjamin pada mereka bahwa kesalahan ketik atau perintah, tidak akan membuat komputer mereka meledak…

Pertanyaan-pertanyaan di sekitar Linux sendiri bagi saya adalah sebuah proses pembesaran Linux. Pertanyaan akan meningkatkan solusi, dan pasti akan berimbas pada pencarian persoalan berikutnya, penemuan tips-trik, perdebatan. Walau kadang, namanya juga forum, isinya beragam orang, kadang menyerempet ke cemoohan jika kita salah teknis bertanya, atau cenderung menghakimi dengan keliru jawaban orang lain.

Di samping memberi kontribusi dengan cara itu, pertanyaan-pertanyaan akan mengarah pada penyempurnaan sistem sehingga bug yang muncul akan dibicarakan dicarikan solusinya. Dengan demikian Open Source dan Linux menjadi semakin kecil ‘ penyakitnya’ dan semakin sempurna.

Ber-Open Source adalah sebuah Kesalihan

Bagaimanapun juga, Open Source hanyalah produk. Demikian juga Windows atau OS yang lain. Selalu ada kekurangan. Prosesnya berjalan terus. Pengembangannya tidak berhenti dan berlangsung dari waktu ke waktu. Akan selalu ada kekurangan. Maka, saat itulah jiwa kesabaran kita dipanggil. Bersamaan dengan kesadaran untuk ‘memaafkan’ kekurangan sebuah produk. Kesadaran seperti itu akan membawa sikap positif untuk turut berkontribusi dengan membangun dan mengembangkan Open Source.

Sisi lainnya adalah bahwa Open Source setidaknya mengajak kita untuk menjadi orang yang salih, memilih produk yang legal, halal dipergunakan. Dijanjikan—dalam keislaman yang saya anut—sumber yang halal akan membawa berkah dan manfaat.

Menjadi orang yang salih juga memberi kesadaran bahwa membajak OS dan aplikasinya—sekalipun dianggap biasa dan sepele bagi banyak orang—adalah dosa. Bagi orang-orang yang memaknai konteks dosa, bahwa Tuhan sangat Maha Perhitungan hingga komponen atom pun tak terabaikan, akan membawa pada kesadaran yang praktis dalam beraktivitas di dunia teknologi informasi. Bukan hanya menjauhi konten-konten “tak pantas lihat, tak layak dengar, dan tak pantas tayang”, dia juga kan menghindarkan diri dari penggunaan aplikasi yang ilegal.

Karenanya, saya percaya, ber-Open Source bisa jadi sebuah awal untuk kesalihan.

Mari kita kita awali.

Disampaikan dalam
Pelatihan Singkat Degex
Aplikasi Berbasis Open Source bagi Pustakawan
Rabu, 12 Januari 2011,
Agoes, Erwin S.
Tim UGOS-BuGOS UGM
sad_ewing@ugm.ac.id, sad_ewing@yahoo.com
http://sad-ewing.staff.ugm.ac.id